Studi Kasus Upselling Ukuran Minuman di Kedai Kopi

Studi Kasus Upselling Ukuran Minuman di Kedai Kopi

Dalam bisnis coffee shop, menaikkan omzet tidak selalu harus dengan menambah pelanggan baru. Salah satu strategi yang sering digunakan adalah upselling ukuran minuman. Namun, tidak sedikit kedai kopi yang gagal karena menerapkannya tanpa perhitungan.

Melalui studi kasus upselling coffee shop berikut, kita bisa melihat bagaimana strategi upselling yang tepat mampu meningkatkan nilai transaksi tanpa merusak pengalaman pelanggan.

Gambaran Singkat Studi Kasus Kedai Kopi

Studi kasus ini diambil dari sebuah kedai kopi lokal dengan konsep grab & go. Sebelum menerapkan upselling, kedai ini hanya menjual satu ukuran cup untuk menu kopi susu dan americano.

Harga rata-rata minuman berada di kisaran Rp18.000–Rp20.000 dengan target pasar mahasiswa dan pekerja muda.

Masalah Sebelum Upselling Diterapkan

Beberapa tantangan yang dihadapi kedai kopi ini antara lain:

  • Average Order Value (AOV) stagnan
  • Banyak pelanggan membeli lebih dari satu minuman di jam sibuk
  • Antrian panjang karena repeat order

Pemilik menyadari bahwa ada peluang meningkatkan AOV tanpa menaikkan harga dasar menu.

Strategi Upselling Ukuran Minuman

Alih-alih menaikkan harga, kedai ini menerapkan upselling size cup dengan pendekatan sederhana:

  • Menambahkan opsi ukuran reguler dan large
  • Selisih harga dibuat “ramah psikologis” (Rp3.000–Rp4.000)
  • Barista menawarkan upselling dengan narasi manfaat, bukan sekadar “mau besar?”

Contoh:

“Kalau size large, kopinya lebih creamy dan lebih tahan sampai siang.”

Pendekatan ini membuat upselling terasa sebagai rekomendasi, bukan paksaan.

Penyesuaian Harga dan Ukuran Cup

Dalam strategi ini, kedai kopi juga menyesuaikan:

  • Volume minuman
  • Biaya cup dan tutup
  • Takaran bahan baku

Perhitungan dilakukan agar margin tetap aman meski ukuran cup lebih besar. Ini menjadi kunci agar upselling benar-benar menguntungkan.

Hasil yang Didapat

Setelah satu bulan implementasi, hasilnya cukup signifikan:

  • AOV naik sekitar 18–22%
  • Sekitar 40% pelanggan memilih size besar
  • Tidak ada penurunan jumlah transaksi

Menariknya, pelanggan justru merasa lebih puas karena mendapatkan opsi yang sesuai kebutuhan mereka.

Insight Penting dari Studi Kasus

Dari studi kasus upselling coffee shop ini, ada beberapa pelajaran penting:

  1. Upselling harus berbasis value, bukan harga
  2. Selisih harga menentukan tingkat konversi
  3. Ukuran cup adalah bagian dari strategi, bukan sekadar kemasan
  4. Cara komunikasi barista sangat berpengaruh

Upselling yang berhasil selalu terasa natural di mata pelanggan.

Relevansi Upselling dengan Branding Coffee Shop

Dalam konteks branding, upselling bukan hanya soal angka. Pilihan ukuran, visual cup, dan cara menawarkan menu ikut membentuk citra brand.

Coffee shop yang konsisten dalam ukuran, desain, dan komunikasi akan terlihat lebih profesional. Di sinilah peran strategi kreatif dan branding—sesuatu yang sering dibahas dalam konten-konten di wibucreative.com.

Upselling yang selaras dengan branding justru memperkuat persepsi nilai brand di mata konsumen.

Packaging UMKM Semarang

Wibucreative: Packaging UMKM Semarang Cocok untuk Bisnis Kuliner & Oleh-Oleh

Supplier Kemasan UMKM Jogja

Supplier Kemasan UMKM Jogja, Pilihan Kemasan Terlengkap | Wibucreative

Kemasan F&B Custom

Kemasan F&B Custom Jogja: Jasa Cetak Cepat & Harga Terjangkau

Jasa Sablon Cup Plastik Jogja

Jasa Cetak Kemasan Makanan Jogja untuk UMKM & Franchise | Wibucreative

Jasa Sablon Cup Plastik

Jasa Sablon Cup Plastik Jogja Desain Bebas Tanpa Ribet | Wibucreative

Cetak Plastik Cup Murah

Tempat Cetak Plastik Cup Murah Jogja dengan Desain Bebas | Wibucreative